Jumat, 25 September 2015

Faktor-faktor Penyebab terjadinya stunting




Stunting merupakan bentuk lain dari kegagalan pertumbuhan. Gagalnya pertumbuhan anak dapat disebabkan oleh banyak faktor baik itu faktor dari dalam maupun dari luar. Bila dilihat dari status gizi, stunting merupakan indek perbandingan antara TB dengan Usia. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan tinggi badan balita ataupun faktor-faktor yang dapat menyebabkan terjadinya stunting  adalah sebagai berikut:

1.   Asupan Makanan
Manusia membutuhkan makanan untuk kelansungan hidupnya. Makanan merupakan sumber energy untuk menunjang semua kegiatan atau aktivitas semua manusia. Usaha menciptakan manusia yang sehat pertumbuhannya, penuh semangat dan penuh kegairahannya dalam bekerja, serta tinggi daya cipta dan kreativitasnya, maka sejak anak-anak harus dipersiapkan. Tingkat pertumbuhan berbeda untuk setiap anak, begitu juga dengan kebutuhan energinya.
Kebutuhan energi balita dan anak-anak bervariasi berdasarkan perbedaan tingkat pertumbuhan dan tingkat aktivitas. Tingkat pertumbuhan untuk usia 1 sampai 3 tahun dan 7 sampai 10 tahun lebih cepat, sehingga mengharuskan kebutuhan energy yang lebih besar. Usia dan tahap perkembangan anak juga berkaitan dengan kebutuhan energi. (Sharlin & Edelstein, 2011).Terhambatnya pertumbuhan bayi dan anak-anak akan memberikan suatu efek kepada mereka salah satunya adalah pertambahan tinggi badan yang tidak sesuai dengan usia mereka. Menurut WHO yang dikutip dari Paramitha Anisa protein yang dibutuhkan adalah sebesar 10-15% dari kebutuhan energy total.
2.   Berat Lahir
WHO mendefenisikan BBLR adalah berat lahir <2500 gr. Berat badan lahir rendah ini dapat disebabkan karena kelahiran premature (kehamilan sebelum 37 minggu) atau gangguan pertumbuhan intrauterin atau kombinasi dari kedua factor tersebut. Berat lahir memiliki dampak yang besar pada pertumbuhan anak, dan WHO juga sudah menegaskan bahwa anak-anak berpotensi tumbuh yang sama (WHO, 2006).
Stunting juga dapat disebabkan karena berawal dari pertumbuhan janin yang tidak memadai dan ibu yang kurang gizi dan sekitar dari setengah kegagalan pertumbuhan dimulai dirahim. Bayi yang lahir dengan keadaan berat badan lahir rendah sangat berisiko tinggi terhadap morbiditas, kematian, penyakit infeksi, kekurangan berat badan, stunting diawal periode neonatal sampai masa kanak-kanak. Bayi dengan berat lahir rendah ini dapat dikaitkan dengan gangguan fungsi kekebalan tubuh, perkembangan kognitif yang buruk, dan beresiko terjadinya diare akut atau pneumonia (Fitri, 2012).
Status kesehatan balita meliputi kejadian diare dan infeksi saluran pernafasan akut pada balita. Berdasarkan penelitian yang sebelumnya yaitu penelitian Masithah, Soekirman, & Martianto (2005) yang dikutip dari Paramitha Anisa anak balita yang menderita diare memiliki hubungan positif dengan indeks status gizi Tinggi Badan per Umur (TB/U), penyakit infeksi seperti diare dan ISPA ini dapat disebabkan karena sanitasi pangan dan lingkungan yang buruk berhubungan dengan kejadian stunting (Paramitha Anisa, 2012).
3.   ASI Eksklusif
ASI merupakan bentuk makanan yang ideal untuk memenuhi gizi anak, karena ASI sanggup memenuhi kebutuhan gizi bayi untuk hidup selama 6 bulan pertama kehidupan. ASI eksklusif adalah memberikan hanya ASI saja bagi bayi sejak lahir sampai usia 6 bulan. Selama 6 bulan pertama pemberian ASI eksklusif, bayi tidak diberikan makanan dan minuman lain (susu formula, jeruk, madu, air, teh, makanan padat seperti pisang, papaya, bubur susu, bubur nasi dan biscuit). Sedangkan ASI predominan adalah memberikan ASI kepada bayi, tetapi pernah memberikan sedikit air, atau minuman seperti teh untuk makanan/minuman sebelum ASI keluar (Kemenkes, 2010).
Pemberian ASI memiliki berbagai manfaat terhadap kesehatan, terutama dalam perkembangan anak. Menurut Roesli (2000) yang dikutip dalam skripsi Citaningrum (2012) ASI eksklusif sebagai makanan tunggal dapat memenuhi semua kebutuhan pertumbuhan bayi sampai usia 6 bulan. ASI  juga memiliki banyak manfaat yaitu meningkatkan daya tahan tubuh bayi karena banyak mengandung zat anti kekebalan sehingga dapat melindungi dari berbagai serangan penyakit, melindugi dari serangan alergi, mengandung asam lemak yang diperlukan untuk pertumbuhan otak bayi, meningkatkan daya penglihatan dan kepandaian bicara, membantu pembentukan rahang yang bagus. Komposisi ASI banyak mengandung Asam Lemak tak jenuh dengan rantai karbon panjang yang tidak hanya sebagai sumber energi tapi juga penting untuk perkembangan otak karena molekul yang dominan ditemukan dalam selubung myelin. Manfaat lain dari pemberian ASI adalah pembentukan ikatan yang lebih kuatdalam interaksi ibu dan anak, sehingga berefek positif bagi perkembangan dan perilaku anak. Menurut penelitian Hien dan Kam (2008) yang dikutip dari Paramitha Anisa bahwa balita yang tidak diberikan ASI Eksklusif (<6 bulan) beresiko 3,7 kali lebih tinggi terkena stunting dibandingkan balita yang diberikan ASI Eksklusif (>6 bulan).
4.   Usia Balita
Masa balita merupakan usia paling rawan, karena pada masa ini balita sering terkena penyakit infeksi sehingga menjadikan anak beresiko tinggi menjadi kurang gizi (Paramitha Anisa, 2012).
Anak umur 24-59 bulan cenderung menderita status gizi kurang disebabkan oleh asupan gizi yang diperlukan untuk anak seusia ini meningkat. Secara psikologis anak pada kelompok ini sebagian besar telah menunjukkan sikap menerima atau menolak makanan yang diberikan oleh orang tuanya. Masa ini juga sering dikenal dengan sebagai masa “keras kepala”, karena akibat pergaulan anak dengan lingkungannya terutama dengan anak-anak yang lebih besar. Pergaulan ini dapat mengajarkan anak-anak untuk mulai senang jajan dan mengikuti kebiasaan anak-anak yang lebih besar. Jika hal ini dibiarkan saja, jajanan ataupun makanan yang dipilih dapat mengurangi nafsu makan bahkan menolak makanan yang diberikan orang tuanya. Hal ini dapat mengakibatkan anak kurang menerima asupan gizi yang diperlukan bagi tubuhnya sehingga anak kurang gizi. Laju pertumbuhan pada tahun pertama kehidupan adalah lebih cepat dibandingkan usia lainnya.
5.   Jenis Kelamin
Jenis kelamin menentukan pula besar kecilnya kebutuhan gizi untuk seseorang. Pria lebih banyak membutuhkan zat tenaga dan protein dibandingkan wanita. Pria lebih sanggup mengerjakan pekerjaan berat yang tidak biasa dilakukan wanita.  Selama masa bayi dan anak-anak, anak perempuan cenderung lebih rendah kemungkinannya menjadi stunting dan severe stunting daripada anak laki-laki, selain itu bayi perempuan dapat bertahan hidup dalam jumlah lebih besar daripada bayi laki-laki dikebanyakan Negara berkembang termasuk Indonesia (Ramli et al. 2009). Anak perempuan memasuki masa puber dua tahun lebih awal daripada anak laki-laki, dan dua tahun juga merupakan selisih dipuncak kecepatan tinggi antara kedua jenis kelamin.
6.   Pendidikan Orang Tua
Pendidikan orang tua merupakan faktor yang paling penting. Hal ini menunjukkan, pendidikan orang tua akan berpengaruh terhadap pengasuhan anak, karena dengan pendidikan yang tinggi pada orang tua akan memahami pentingnya peranan orang tua dalam pertumbuhan anak. Tinggi rendahnya pengetahuan ibu sangat berpengaruh terhadap perawatan kesehatan pada saat hamil dan setelah melahirkan serta sangat berpengaruh terhadap kesehatan dan gizi anak-anaknya dan keluarganya (Paramitha Anisa, 2012).
Pendidikan juga berpengaruh terhadap pekerjaan, kebiasaan hidup, makanan dan tempat tinggal karena pekerjaan sangat mempengaruhi kualitas pendapatan. Pendidikan juga mempengaruhi daya tangkap seseorang terhadap penyuluhan-penyulahan kesehatan yang diberikan serta mampu memilah-milah mana yang selayaknya diberikan mana tidak, dengan demikian ibu mampu mengolah makanan dengan baik dan menjaga kebersihan makanan itu dan ibu juga mampu mensiasati apabila anaknya mempunyai alergi terhadap makanan yang banyak mengandung zat gizi yang tinggi ibu bisa menggantikan makanan yang sepadan dengan yang tidak bisa dimakan oleh anaknya.
Penelitian lain yang dilakukan oleh Semba et al. (2008) pada anak-anak di Indonesia menunjukkan hasil bahwa dengan meningkatkan pendidikan ibu dapat mengurangi angka stunting pada balita dibandingkan dengan meningkatkan pendidikan ayah, karena ibu merupakan pengasuh utama bagi anak-anak.
7.      Besarnya Keluarga
Hubungan besarnya keluarga dengan status gizi benar-benar sangat nyata, khususnya bagi keluarga yang miskin lebih mudah bagi mereka mencukupi kebutuhan mereka apabila anggita keluarga mereka dalam jumlah yang kecil. Pangan bagi keluarga yang besar mampu untuk memenuhi kebutuhan keluarga besar tersebut namun belum tentu hal itu mampu mencegah terjadinya gangguan gizi pada anggota keluarga.
Anak-anak yang tumbuh didalam keluarga miskin sangat rawan dengan kekurangan gizi dan anak yang paling kecil juga biasanya terpengaruh oleh kekurangan pangan karena anak yang lebih muda memerlukan pangan yang lebih banyak dibandingkan anak yang lebih tua. Menurut penelitian yang dilakukan Astari & Dwiriani (2006) di Kabupaten Bogor mengatakan bahwa rata-rata besar keluarga pada anak-anak stunting  dengan yang normal tidak berbeda.

1 komentar: