
Stunting merupakan bentuk lain
dari kegagalan pertumbuhan. Gagalnya pertumbuhan anak dapat disebabkan oleh
banyak faktor baik itu faktor dari dalam maupun dari luar. Bila dilihat dari
status gizi, stunting merupakan indek
perbandingan antara TB dengan Usia. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi
pertumbuhan tinggi badan balita ataupun faktor-faktor yang dapat menyebabkan
terjadinya stunting adalah sebagai berikut:
1.
Asupan Makanan
Manusia
membutuhkan makanan untuk kelansungan hidupnya. Makanan merupakan sumber energy
untuk menunjang semua kegiatan atau aktivitas semua manusia. Usaha menciptakan
manusia yang sehat pertumbuhannya, penuh semangat dan penuh kegairahannya dalam
bekerja, serta tinggi daya cipta dan kreativitasnya, maka sejak anak-anak harus
dipersiapkan. Tingkat pertumbuhan berbeda untuk setiap anak, begitu juga dengan
kebutuhan energinya.
Kebutuhan energi balita dan anak-anak
bervariasi berdasarkan perbedaan tingkat pertumbuhan dan tingkat aktivitas.
Tingkat pertumbuhan untuk usia 1 sampai 3 tahun dan 7 sampai 10 tahun lebih
cepat, sehingga mengharuskan kebutuhan energy yang lebih besar. Usia dan tahap
perkembangan anak juga berkaitan dengan kebutuhan energi. (Sharlin &
Edelstein, 2011).Terhambatnya pertumbuhan bayi dan
anak-anak akan memberikan suatu efek kepada mereka salah satunya adalah
pertambahan tinggi badan yang tidak sesuai dengan usia mereka. Menurut WHO yang
dikutip dari Paramitha Anisa protein yang dibutuhkan adalah sebesar 10-15% dari
kebutuhan energy total.
2.
Berat Lahir
WHO mendefenisikan
BBLR adalah berat lahir <2500 gr. Berat badan lahir rendah ini dapat
disebabkan karena kelahiran premature (kehamilan sebelum 37 minggu) atau
gangguan pertumbuhan intrauterin atau kombinasi dari kedua factor tersebut.
Berat lahir memiliki dampak yang besar pada pertumbuhan anak, dan WHO juga
sudah menegaskan bahwa anak-anak berpotensi tumbuh yang sama (WHO, 2006).
Stunting juga dapat disebabkan karena
berawal dari pertumbuhan janin yang tidak memadai dan ibu yang kurang gizi dan
sekitar dari setengah kegagalan pertumbuhan dimulai dirahim. Bayi yang lahir
dengan keadaan berat badan lahir rendah sangat berisiko tinggi terhadap
morbiditas, kematian, penyakit infeksi, kekurangan berat badan, stunting diawal periode neonatal sampai
masa kanak-kanak. Bayi dengan berat lahir rendah ini dapat dikaitkan dengan
gangguan fungsi kekebalan tubuh, perkembangan kognitif yang buruk, dan beresiko
terjadinya diare akut atau pneumonia (Fitri, 2012).
Status kesehatan
balita meliputi kejadian diare dan infeksi saluran pernafasan akut pada balita.
Berdasarkan penelitian yang sebelumnya yaitu penelitian Masithah, Soekirman,
& Martianto (2005) yang dikutip dari Paramitha Anisa anak balita yang
menderita diare memiliki hubungan positif dengan indeks status gizi Tinggi
Badan per Umur (TB/U), penyakit infeksi seperti diare dan ISPA ini dapat
disebabkan karena sanitasi pangan dan lingkungan yang buruk berhubungan dengan
kejadian stunting (Paramitha Anisa,
2012).
3.
ASI Eksklusif
ASI merupakan
bentuk makanan yang ideal untuk memenuhi gizi anak, karena ASI sanggup memenuhi
kebutuhan gizi bayi untuk hidup selama 6 bulan pertama kehidupan. ASI eksklusif
adalah memberikan hanya ASI saja bagi bayi sejak lahir sampai usia 6 bulan.
Selama 6 bulan pertama pemberian ASI eksklusif, bayi tidak diberikan makanan
dan minuman lain (susu formula, jeruk, madu, air, teh, makanan padat seperti
pisang, papaya, bubur susu, bubur nasi dan biscuit). Sedangkan ASI predominan
adalah memberikan ASI kepada bayi, tetapi pernah memberikan sedikit air, atau
minuman seperti teh untuk makanan/minuman sebelum ASI keluar (Kemenkes, 2010).
Pemberian ASI
memiliki berbagai manfaat terhadap kesehatan, terutama dalam perkembangan anak.
Menurut Roesli (2000) yang dikutip dalam skripsi Citaningrum (2012) ASI
eksklusif sebagai makanan tunggal dapat memenuhi semua kebutuhan pertumbuhan
bayi sampai usia 6 bulan. ASI juga
memiliki banyak manfaat yaitu meningkatkan daya tahan tubuh bayi karena banyak
mengandung zat anti kekebalan sehingga dapat melindungi dari berbagai serangan
penyakit, melindugi dari serangan alergi, mengandung asam lemak yang diperlukan
untuk pertumbuhan otak bayi, meningkatkan daya penglihatan dan kepandaian
bicara, membantu pembentukan rahang yang bagus. Komposisi ASI banyak mengandung
Asam Lemak tak jenuh dengan rantai karbon panjang yang tidak hanya sebagai
sumber energi tapi juga penting untuk perkembangan otak karena molekul yang
dominan ditemukan dalam selubung myelin. Manfaat lain dari pemberian ASI adalah
pembentukan ikatan yang lebih kuatdalam interaksi ibu dan anak, sehingga
berefek positif bagi perkembangan dan perilaku anak. Menurut penelitian Hien
dan Kam (2008) yang dikutip dari Paramitha Anisa bahwa balita yang tidak
diberikan ASI Eksklusif (<6 bulan) beresiko 3,7 kali lebih tinggi terkena stunting dibandingkan balita yang
diberikan ASI Eksklusif (>6 bulan).
4.
Usia Balita
Masa balita
merupakan usia paling rawan, karena pada masa ini balita sering terkena
penyakit infeksi sehingga menjadikan anak beresiko tinggi menjadi kurang gizi (Paramitha
Anisa, 2012).
Anak umur 24-59 bulan cenderung
menderita status gizi kurang disebabkan oleh asupan gizi yang diperlukan untuk
anak seusia ini meningkat. Secara psikologis anak pada kelompok ini sebagian
besar telah menunjukkan sikap menerima atau menolak makanan yang diberikan oleh
orang tuanya. Masa ini juga sering dikenal dengan sebagai masa “keras kepala”,
karena akibat pergaulan anak dengan lingkungannya terutama dengan anak-anak
yang lebih besar. Pergaulan ini dapat mengajarkan anak-anak untuk mulai senang
jajan dan mengikuti kebiasaan anak-anak yang lebih besar. Jika hal ini
dibiarkan saja, jajanan ataupun makanan yang dipilih dapat mengurangi nafsu
makan bahkan menolak makanan yang diberikan orang tuanya. Hal ini dapat
mengakibatkan anak kurang menerima asupan gizi yang diperlukan bagi tubuhnya
sehingga anak kurang gizi. Laju pertumbuhan pada tahun pertama kehidupan adalah
lebih cepat dibandingkan usia lainnya.
5.
Jenis Kelamin
Jenis kelamin
menentukan pula besar kecilnya kebutuhan gizi untuk seseorang. Pria lebih
banyak membutuhkan zat tenaga dan protein dibandingkan wanita. Pria lebih
sanggup mengerjakan pekerjaan berat yang tidak biasa dilakukan wanita. Selama masa bayi dan anak-anak, anak
perempuan cenderung lebih rendah kemungkinannya menjadi stunting dan severe stunting
daripada anak laki-laki, selain itu bayi perempuan dapat bertahan hidup dalam
jumlah lebih besar daripada bayi laki-laki dikebanyakan Negara berkembang termasuk
Indonesia (Ramli et al. 2009). Anak
perempuan memasuki masa puber dua tahun lebih awal daripada anak laki-laki, dan
dua tahun juga merupakan selisih dipuncak kecepatan tinggi antara kedua jenis
kelamin.
6.
Pendidikan Orang Tua
Pendidikan orang
tua merupakan faktor yang paling penting. Hal ini menunjukkan, pendidikan orang
tua akan berpengaruh terhadap pengasuhan anak, karena dengan pendidikan yang
tinggi pada orang tua akan memahami pentingnya peranan orang tua dalam
pertumbuhan anak. Tinggi rendahnya pengetahuan ibu sangat berpengaruh terhadap
perawatan kesehatan pada saat hamil dan setelah melahirkan serta sangat
berpengaruh terhadap kesehatan dan gizi anak-anaknya dan keluarganya (Paramitha
Anisa, 2012).
Pendidikan juga
berpengaruh terhadap pekerjaan, kebiasaan hidup, makanan dan tempat tinggal
karena pekerjaan sangat mempengaruhi kualitas pendapatan. Pendidikan juga
mempengaruhi daya tangkap seseorang terhadap penyuluhan-penyulahan kesehatan
yang diberikan serta mampu memilah-milah mana yang selayaknya diberikan mana
tidak, dengan demikian ibu mampu mengolah makanan dengan baik dan menjaga
kebersihan makanan itu dan ibu juga mampu mensiasati apabila anaknya mempunyai
alergi terhadap makanan yang banyak mengandung zat gizi yang tinggi ibu bisa
menggantikan makanan yang sepadan dengan yang tidak bisa dimakan oleh anaknya.
Penelitian lain
yang dilakukan oleh Semba et al. (2008)
pada anak-anak di Indonesia menunjukkan hasil bahwa dengan meningkatkan
pendidikan ibu dapat mengurangi angka stunting
pada balita dibandingkan dengan meningkatkan pendidikan ayah, karena ibu
merupakan pengasuh utama bagi anak-anak.
7.
Besarnya Keluarga
Hubungan besarnya
keluarga dengan status gizi benar-benar sangat nyata, khususnya bagi keluarga
yang miskin lebih mudah bagi mereka mencukupi kebutuhan mereka apabila anggita
keluarga mereka dalam jumlah yang kecil. Pangan bagi keluarga yang besar mampu
untuk memenuhi kebutuhan keluarga besar tersebut namun belum tentu hal itu
mampu mencegah terjadinya gangguan gizi pada anggota keluarga.
Anak-anak yang tumbuh didalam keluarga
miskin sangat rawan dengan kekurangan gizi dan anak yang paling kecil juga
biasanya terpengaruh oleh kekurangan pangan karena anak yang lebih muda
memerlukan pangan yang lebih banyak dibandingkan anak yang lebih tua. Menurut
penelitian yang dilakukan Astari & Dwiriani (2006) di Kabupaten Bogor
mengatakan bahwa rata-rata besar keluarga pada anak-anak stunting dengan yang normal
tidak berbeda.
bagaimana tips atau cara mencegah stunting pada anak ?
BalasHapus